Remaja dan Permasalahannya
MAKALAH REMAJA DAN PERMASALAHANNYA
Disusun oleh:
Singgih Wisnu Paranata
57416059
1IA12
Teknik Informatika
Universitas
Gunadarma
2016/2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah
tentang “Remaja dan Permasalahannya” ini dengan baik meskipun masih terdapat
banyak kekurangan didalamnya. Dan juga saya berterima kasih pada Bapak
Emilianshah Banowo selaku dosen mata kuliah Ilmu Sosial Dasar Universitas
Gunadarma yang telah memberikan tugas ini kepada saya.
Saya berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai Permasalahan Remaja Masa Kini. Saya menyadari
sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu, saya berharap adanya kritik, saran dan usulan demi
perbaikan makalah yang telah saya buat di masa yang akan datang, mengingat
tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya
sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan saya mohon kritik dan
saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan
datang.
Depok,
01 Desember 2016
Singgih
Wisnu Pranata
DAFTAR
ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Remaja adalah masa peralihan diri anak
menuju dewasa, pada masa ini terjadi berbagai macam perubahan yang cukup
bermakna baik secara fisik, biologis, mental dan emosional serta psikososial. Kesemuanya
ini dapat mempengaruhi kehidupan pribadi, lingkungan keluarga maupun
masyarakat. Ketidak siapan remaja dalam menghadapi perubahan tersebut dapat
menimbulkan berbagai perilaku menyimpang seperti : kenakalan remaja,
penyalahgunaan obat terlarang, penyaki menular seksual (PMS) dan HIV / AIDS,
kehamialn yang tidak diinginkan, Aborsi dan sebagainya.
Untuk mendukung agar remaja berperilaku
reproduksi secara sehat dan bertanggung jawab maka mereka perlu di beri
pengetahuan dan informasi tentang kesehatan reproduksi. Informasi tersebut
dimaksud untuk mengimbangi informasi global yang dapat mengancam terwujudnya
generasi muda yang sehat, mandiri dan berkualitas.
1.2
Tujuan Penulisan
Tujuan Penulisan makalah ini adalah
sebagai rangkuman dari sisi kehidupan remaja dan permasalahannya yang tersusun
dalam bentuk sebuah makalah dan juga sebagai acuan tugas sekolah pelajaran
Bahasa Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Definisi Remaja
Remaja berasal dari kata latin adolensence yang
berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti
yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan
fisik. Remaja sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak
termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua. Seperti yang
dikemukakan oleh Calon (dalam Monks, dkk 1994) bahwa masa remaja menunjukkan
dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh
status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak. Menurut Sri Rumini &
Siti Sundari (2004: 53) masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa
dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/ fungsi untuk memasuki masa
dewasa. Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21
tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Sedangkan
menurut Zakiah Darajat (1990: 23) remaja adalah: masa peralihan diantara masa
kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa
perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak
baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang
dewasa yang telah matang.
Hal senada diungkapkan oleh Santrock
(2003: 26) bahwa remaja (adolescene) diartikan sebagai masa perkembangan
transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis,
kognitif, dan sosial-emosional. Batasan usia remaja yang umum digunakan oleh
para ahli adalah antara 12 hingga 21 tahun. Rentang waktu usia remaja ini
biasanya dibedakan atas tiga, yaitu 12 – 15 tahun = masa remaja awal, 15 – 18
tahun = masa remaja pertengahan, dan 18 – 21 tahun = masa remaja akhir.
Tetapi Monks, Knoers, dan Haditono membedakan masa remaja menjadi empat
bagian, yaitu masa pra-remaja 10 – 12 tahun, masa remaja awal 12 – 15 tahun,
masa remaja pertengahan 15 – 18 tahun, dan masa remaja akhir 18 – 21 tahun
(Deswita, 2006: 192)
Definisi yang dipaparkan oleh Sri Rumini
& Siti Sundari, Zakiah Darajat, dan Santrock tersebut menggambarkan bahwa
masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak dengan masa dewasa dengan
rentang usia antara 12-22 tahun, dimana pada masa tersebut terjadi proses
pematangan baik itu pematangan fisik, maupun psikologis.
2.2
Karakteristik Remaja
Karakteristik pertumbuhan dan
perkembangan remaja yang mencakup perubahan transisi biologis, transisi
kognitif, dan transisi sosial akan dipaparkan di bawah ini:
1.
Transisi Biologis
Menurut Santrock (2003: 91) perubahan
fisik yang terjadi pada remaja terlihat nampak pada saat masa pubertas yaitu
meningkatnya tinggi dan berat badan serta kematangan sosial. Diantara perubahan
fisik itu, yang terbesar pengaruhnya pada perkembangan jiwa remaja adalah pertumbuhan
tubuh (badan menjadi semakin panjang dan tinggi). Selanjutnya, mulai
berfungsinya alat-alat reproduksi (ditandai dengan haid pada wanita dan mimpi
basah pada laki-laki) dan tanda-tanda seksual sekunder yang tumbuh (Sarlito
Wirawan Sarwono, 2006: 52).
Selanjutnya, Menurut Muss (dalam Sunarto
& Agung Hartono, 2002: 79) menguraikan bahwa perubahan fisik yang terjadi
pada anak perempuan yaitu; perertumbuhan tulang-tulang, badan menjadi tinggi,
anggota-anggota badan menjadi panjang, tumbuh payudara.Tumbuh bulu yang halus
berwarna gelap di kemaluan, mencapai pertumbuhan ketinggian badan yang maksimum
setiap tahunnya, bulu kemaluan menjadi kriting, menstruasi atau haid, tumbuh
bulu-bulu ketiak.
Sedangkan pada anak laki-laki peubahan
yang terjadi antara lain; pertumbuhan tulang-tulang, testis (buah pelir)
membesar, tumbuh bulu kemaluan yang halus, lurus, dan berwarna gelap, awal
perubahan suara, ejakulasi (keluarnya air mani), bulu kemaluan menjadi
keriting, pertumbuhan tinggi badan mencapai tingkat maksimum setiap tahunnya,
tumbuh rambut-rambut halus diwajaah (kumis, jenggot), tumbuh bulu ketiak, akhir
perubahan suara, rambut-rambut diwajah bertambah tebal dan gelap, dan tumbuh
bulu dada.
Pada dasarnya perubahan fisik remaja
disebabkan oleh kelenjar pituitarydan kelenjar hypothalamus. Kedua
kelenjar itu masing-masing menyebabkan terjadinya pertumbuhan ukuran tubuh dan
merangsang aktifitas serta pertumbuhan alat kelamin utama dan kedua pada remaja
(Sunarto & Agung Hartono, 2002: 94).
2.
Transisi Kognitif
Dalam perkembangan kognitif, remaja
tidak terlepas dari lingkungan sosial. Hal ini menekankan pentingnya interaksi
sosial dan budaya dalam perkembangan kognitif remaja.
Menurut Piaget (dalam Santrock, 2003:
110) secara lebih nyata pemikiran opersional formal bersifat lebih abstrak,
idealistis dan logis. Remaja berpikir lebih abstrak dibandingkan dengan
anak-anak misalnya dapat menyelesaikan persamaan aljabar abstrak. Remaja juga
lebih idealistis dalam berpikir seperti memikirkan karakteristik ideal dari
diri sendiri, orang lain dan dunia. Remaja berfikir secara logis yang mulai
berpikir seperti ilmuwan, menyusun berbagai rencana untuk memecahkan masalah
dan secara sistematis menguji cara pemecahan yang terpikirkan.
3.
Transisi Sosial
Perkembangan sosial anak telah dimulai
sejak bayi, kemudian pada masa kanak-kanak dan selanjutnya pada masa remaja.
Hubungan sosial anak pertama-tama masing sangat terbatas dengan orang tuanya
dalam kehidupan keluarga, khususnya dengan ibu dan berkembang semakin meluas
dengan anggota keluarga lain, teman bermain dan teman sejenis maupun lain jenis
(dalam Rita Eka Izzaty dkk, (2008: 139).
2.3
Fase Pertumbuhan Remaja
2.3.1 Masa pra-pubertas (12
- 13 tahun)
Masa ini disebut juga masa pueral, yaitu masa
peralihan dari kanak-kanak ke remaja. Pada anak perempuan, masa ini lebih
singkat dibandingkan dengan anak laki-laki. Pada masa ini, terjadi perubahan
yang besar pada remaja, yaitu meningkatnya hormon seksualitas dan mulai
berkembangnya organ-organ seksual serta organ-organ reproduksi remaja. Di
samping itu, perkembangan intelektualitas yang sangat pesat jga terjadi pada
fase ini. Akibatnya, remaja-remaja ini cenderung bersikap suka mengkritik
(karena merasa tahu segalanya), yang sering diwujudkan dalam bentuk pembangkangan
ataupun pembantahan terhadap orang tua, mulai menyukai orang dewasa yang
dianggapnya baik, serta menjadikannya sebagai "hero" atau pujaannya.
Perilaku ini akan diikuti dengan meniru segala yang dilakukan oleh pujaannya,
seperti model rambut, gaya bicara, sampai dengan kebiasaan hidup pujaan
tersebut.
Selain itu, pada masa ini remaja juga cenderung lebih
berani mengutarakan keinginan hatinya, lebih berani mengemukakan pendapatnya,
bahkan akan mempertahankan pendapatnya sekuat mungkin. Hal ini yang sering
ditanggapi oleh orang tua sebagai pembangkangan. Remaja tidak ingin
diperlakukan sebagai anak kecil lagi. Mereka lebih senang bergaul dengan
kelompok yang dianggapnya sesuai dengan kesenangannya. Mereka juga semakin
berani menentang tradisi orang tua yang dianggapnya kuno dan tidak/kurang
berguna, maupun peraturan-peraturan yang menurut mereka tidak beralasan,
seperti tidak boleh mampir ke tempat lain selepas sekolah, dan sebagainya.
Mereka akan semakin kehilangan minat untuk bergabung dalam kelompok sosial yang
formal, dan cenderung bergabung dengan teman-teman pilihannya. Misalnya, mereka
akan memilih main ke tempat teman karibnya daripada bersama keluarga berkunjung
ke rumah saudara.
Tapi, pada saat yang sama, mereka juga butuh
pertolongan dan bantuan yang selalu siap sedia dari orang tuanya, jika mereka
tidak mampu menjelmakan keinginannya. Pada saat ini adalah saat yang kritis.
Jika orang tua tidak mampu memenuhi kebutuhan psikisnya untuk mengatasi konflik
yang terjadi saat itu, remaja akan mencarinya dari orang lain. Orang tua harus
ingat, bahwa masalah yang dihadapi remaja, meskipun bagi orang tua itu
merupakan masalah sepele, tetapi bagi remaja itu adalah masalah yang
sangat-sangat berat.
2.3.2 Masa pubertas (14 -
16 tahun)
Masa ini disebut juga masa remaja awal, dimana
perkembangan fisik mereka begitu menonjol. Remaja sangat cemas akan
perkembangan fisiknya, sekaligus bangga bahwa hal itu menunjukkan bahwa ia
memang bukan anak-anak lagi. Pada masa ini, emosi remaja menjadi sangat labil akibat
dari perkembangan hormon-hormon seksualnya yang begitu pesat. Keinginan seksual
juga mulai kuat muncul pada masa ini. Pada remaja wanita ditandai dengan
datangnya menstruasi yang pertama, sedangkan pada remaja pris ditandai dengan
datangnya mimpi basah yang pertama. Remaja akan merasa bingung dan malu akan
hal ini, sehingga orang tua harus mendampinginya serta memberikan pengertian
yang baik dan benar tentang seksualitas. Jika hal ini gagal ditangani dengan
baik, perkembangan psikis mereka khususnya dalam hal pengenalan diri/gender dan
seksualitasnya akan terganggu. Kasus-kasus gay dan lesbi banyak diawali dengan
gagalnya perkembangan remaja pada tahap ini.
Di samping itu, remaja mulai mengerti tentang gengsi,
penampilan, dan daya tarik seksual. Karena kebingungan mereka ditambah labilnya
emosi akibat pengaruh perkembangan seksualitasnya, remaja sukar diselami
perasaannya. Kadang mereka bersikap kasar, kadang lembut. Kadang suka melamun,
di lain waktu dia begitu ceria. Perasaan sosial remaja di masa ini semakin
kuat, dan mereka bergabung dengan kelompok yang disukainya dan membuat
peraturan-peraturan dengan pikirannya sendiri.
2.3.3 Masa akhir pubertas
(17 - 18 tahun)
Pada masa ini, remaja yang mampu melewati masa
sebelumnya dengan baik, akan dapat menerima kodratnya, baik sebagai laki-laki
maupun perempuan. Mereka juga bangga karena tubuh mereka dianggap menentukan
harga diri mereka. Masa ini berlangsung sangat singkat. Pada remaja putri, masa
ini berlangsung lebih singkat daripada remaja pria, sehingga proses kedewasaan
remaja putri lebih cepat dicapai dibandingkan remaja pria. Umumnya kematangan
fisik dan seksualitas mereka sudah tercapai sepenuhnya. Namun kematangan
psikologis belum tercapai sepenuhnya.
2.3.4 Periode remaja
Adolesen (19 - 21 tahun)
Pada periode ini umumnya remaja sudah mencapai
kematangan yang sempurna, baik segi fisik, emosi, maupun psikisnya. Mereka akan
mempelajari berbagai macam hal yang abstrak dan mulai memperjuangkan suatu
idealisme yang didapat dari pikiran mereka. Mereka mulai menyadari bahwa
mengkritik itu lebih mudah daripada menjalaninya. Sikapnya terhadap kehidupan
mulai terlihat jelas, seperti cita-citanya, minatnya, bakatnya, dan sebagainya.
Arah kehidupannya serta sifat-sifat yang menonjol akan terlihat jelas pada fase
ini.
2.4
Remaja dan Permasalahannya
Masalah remaja sebagai usia bermasalah.
Setiap periode hidup manusia punya masalahnya tersendiri, termasuk periode
remaja. Remaja seringkali sulit mengatasi masalah mereka. Ada dua alasan hal
itu terjadi, yaitu : pertama; ketika masih anak-anak, seluruh masalah mereka
selalu diatasi oleh orang-orang dewasa. Hal inilah yang membuat remaja tidak
mempunyai pengalaman dalam menghadapi masalah. Kedua; karena remaja merasa
dirinya telah mandiri, maka mereka mempunyai gengsi dan menolak bantuan dan
orang dewasa. Remaja pada umunya mengalami bahwa pencarian jati diri atau
keutuhan diri itu suatu masalah utama karena adanya perubahan-perubahan sosial,
fisiologi dan psikologis di dalam diri mereka maupun di tengah masyarakat
tempat mereka hidup. Perubahan-perubahan ini dipergencar dalam masyarakat kita
yang semakin kompleks dan berteknologi modern.
Adapun masalah yang dihadapi remaja masa
kini antara lain :
1.
Kebutuhan akan figur teladan
Remaja jauh lebih mudah terkesan akan
nilai-nilai luhur yang berlangsung dan keteladanan orang tua mereka daripada
hanya sekedar nasehat-nasehat bagus yang tinggal hanya kata-kata indah
2.
Sikap Apatis
Sikap apatis meruapakan kecenderungan
untuk menolak sesuatu dan pada saat yang bersamaan tidak mau melibatkan diri di
dalamnya. Sikap apatis ini terwujud di dalam ketidakacuhannya akan apa yang
terjadi di masyarakatnya.
3.
Kecemasan dan kurangnya harga diri
Kata stess atau frustasi semakin umum dipakai
kalangan remaja. Banyak kaum muda yang mencoba mengatasi rasa cemasnya dalam
bentuk “pelarian” (memburu kenikmatan lewat minuman keras, obat penenang, seks
dan lainnya).
4.
Ketidakmampuan untuk melibatkan diri
Kecenderungan untuk mengintelektualkan
segala sesuatu dan pola pikir ekonomis, membuat para remaja sulit melibatkan
diri secara emosional maupun efektif dalam hubungan pribadi dan dalam kehidupan
di masyarakat. Persahabatan dinilai dengan untung rugi atau malahan dengan
uang.
5.
Perasaan tidak berdaya
Perasaan tidak berdaya ini muncul
pertama-tama karena teknologi semakin menguasai gaya hidup dan pola berpikir
masyarakat modern. Teknologi mau tidak mau menciptakan masyarakat teknokratis
yang memaksa kita untuk berpikir tentang keselamatan diri kita di tengah-tengah
masyarakat. Lebih jauh remaja mencari “jalan pintas”, misalnya menggunakan
segala cara untuk tidak belajar tetapi mendapat nilai baik atau ijazah
6.
Pemujaan akan pengalaman
Sebagian besar tindakan-tindakan negatif
anak muda dengan minumam keras, obat-obatan dan seks pada mulanya berawal dan
hanya mencoba-coba. Lingkungan pergaulan anak muda dewasa ini memberikan
pandangan yagn keliru tentang pengalaman.
Bentuk-bentuk dan perbuatan yang anti
sosial antara lain:
1.
Anak-anak muda yang berasal dan golongan
orang kaya yang biasanya memakain pakaian yang mewah, hidup hura-hura dengan
pergi ke diskotik merupakan gaya hidup mewah yang tidak selaras dengan
kebiasaan adat timur.
2.
Di sekolah, misalnya dengan melanggar
tata tertib sekolah seperti bolos, terlambat masuk kelas, tidak mengerjakan
tugas dan lain sebagainya.
3.
Ngebut, yaitu mengendarai mobil atau
motor ditengah-tengah keramaian kota dengan kecepatan yang melampaui batas
maksimum yang dilakukan oleh para pemuda belasan tahun.
4.
Membentuk kelompok (genk-genk) remaja
yang tingkah lakunya sangat menyimpang dengan norma yang berlaku di masyarakat,
seperti tawuran antar kelompok.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa pada Masa remaja
sering dianggap sebagai masa yang paling rawan. Masa remaja sering menimbulkan
kekuatiran bagi para orangtua. Padahal bagi remaja, masa ini adalah masa yang
paling menyenangkan dalam hidupnya. Karena dimasa ini remaja ingin menunjukan
kemampuan mereka kepada orang lain dan juga masa remaja adalah masa peralihan
untuk menemukan jatidiri. Oleh karena itu, para orangtua hendaknya lebih
memperhatikan kehidupan remaja agar tidak terjerumus kedalam hal-hak yang tidak
diinginkan dan membawa masa depan remaja kearah yang lebih baik, disamping itu
peran serta Pemerintah, LSM, Pemuka Masyarakat serta remaja itu sendiri sangat
di perlukan.
3.2
Saran
Saran saya untuk para teman-teman
seremaja bahwa masa remaja ini sangat menyenangkan tetapi kita harus tahu untuk
membedakan mana yang baik dan buruk saat bergaul dengan lingkungan. Ada saatnya
kita harus memiliki keyakinan sendiri dan bersadar diri. karena banyak
masalah-masalah yang kita hadapi disaat remaja ini. Jika kalian tidak tahu
bagaimana mengatasinya sebaiknya kalian berbagi rasa dengan orang tua atau
menceritakan masalah yang kalian hadapi, cari sahabat yang terbaik yang bisa
menyelesaikan masalah tersebut. Ada kalanya di masa remaja ini kita bentuk
suatu kelompok dengan aktifitas tertentu agar hidup lebih positif dan agar
membentuk kemampuan kita saat bersosial kepada orang lain.
DAFTAR PUSTAKA
http://masalahremaja92.blogspot.co.id/2013/03/renaja-dan-permasalahannya.html
http://dutashare.blogspot.co.id/2012/12/makalah-remaja-dan-permasalahannya.html
http://mh.web.id/artikel/tinjauan-psikologis-remaja-dan-permasalahannya/

Tidak ada komentar: